TINGKAT KETERSERAPAN LULUSAN SMK di BIDANG INDUSTRI

TINGKAT KETERSERAPAN LULUSAN SMK di BIDANG INDUSTRI

I. Pengertian SMK

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lembaga pendidikan formal setingkat SMA. SMK ini menyelengarakan pendidikan kejuruan pada jenjang menengah sebagai lanjutan dari sekolah menengah pertama atau sederajat. Berbeda dengan SMA, SMK mempelajari materi dan banyak di prakteknya. SMK merupakan jenis pendidikan menengah yang secara khusus mempersiapkan tamatannya untuk menjadi tenaga terampil dan siap terjun ke dalam masyarakat luas.

Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu, seperti bidang teknik, jasa boga dan busana, perhotelan, kerajinan, administrasi perkantoran, dan lain-lain.

Rupert Evans (1978) mendefinisikan pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya.

Rupert Evans (1978) merumuskan pendidikan kejuruan bertujuan untuk:

a.       Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tenaga kerja;

b.       Meningkatkan pilihan pendidikan bagi setiap individu;

c.       Mendorong motivasi untuk belajar terus.

Dalam Undang Undang No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), Pendidikan Menengah Kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu.

Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pendidikan Menengah Kejuruan adalah pendidikan pada jenjang  pendidikan  menengah  yang  mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk jenis pekerjaan tertentu.

SMK adalah suatu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dan latihan. Diharapkan dari lulusan SMK sesuai dengan sasaran pola penyelenggaran kecakapan hidup ditinjau dari keberhasilan lulusan yaitu:

1)      Lulusan bekerja sesuai dengan bidang keahlinya.

2)      Tenggang waktu lulusan mendapatkan kerja setelah lulus maksimal satu tahun.

3)      Keterserapan lulusan dalam periode dua tahun setelah lulus minimal 75%.

4)      Jumlah lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja 5%.

(Depdiknas, 2003: 3)

II. Jurusan-jurusan SMK

SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan tidak hanya terdapat 1 jurusan, tetapi banyak, diantaranya :

1)      Administrasi Perkantoran

2)      Akomodasi Perhotelan

3)      Akuntansi

4)      Animasi

5)      Electronika Pesawat Udara

6)      Kecantikan

7)      Konstruksi Badan Pesawat Udara

8)      Mekanik Otomotif

9)      Multimedia

10)  Ototronik

11)  Pembibitan

12)  Penjualan

13)  Permesinan

14)  Pertanian

15)  Rangka Pesawat Udara

16)  Rekayasa Perangkat Lunak

17)  Restoran

18)  Seni Murni

19)  Tata Boga

20)  Tata Busana

21)  Tata Kecantikan Kulit

22)  Tata Kecantikan Rambut

23)  Teknik Audio Video

24)  Teknik Bodi Otomotif

25)  Teknik Elektronika Industri

26)  Teknik Instalasi Tenaga Listrik

27)  Teknik Kendaraan Ringan

28)  Teknik Komputer dan Jaringan

29)  Teknik Las

30)  Teknik Mekanik Otomotif

31)  Teknik Pemanfaatan Tenaga Listrik

32)  Teknik Pembangkit Tenaga Listrik

33)  Teknik Pemesinan

34)  Teknik Rekayasa Perangkat Lunak

35)  Teknik Sepeda Motor

36)  Teknik Survei Pemetaan

37)  Usaha Jasa Pariwisata

38)  dll.

Bahkan dari yang disebutkan di atas ada lagi jurusan SMK yang berhubungan dengan kimia. SMK yang dimaksud ialah SMAK atau Sekolah Menengah Analisis Kimia. SMAK merupakan salah satu lembaga pendidikan kejuruan negeri di bawah departemen pendidikan perindustrian yang mencetak siswa menjadi tenaga analisis kimia atau laboratorium tingkat menengah. Berbeda dengan sekolah lain yang biasanya membutuhkan waktu 3 tahun untuk lulus, pendidikan SMAK membutuhkan waktu 4 tahun.

III. Dampak Lulusan SMK di Masyarakat

Sinergi antara dunia pendidikan dengan dunia industri serta stakeholders di masyarakat sangat dibutuhkan. Pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan di sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan harapan pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik dari sisi pengetahuan maupun penyelesaian masalah kontektual yang dihadapi sehari-hari.

Selama ini pembelajaran belum bisa memenuhi semua tuntutan masyarakat, terutama bidang keterampilan hidup sesuai kondisi lokal hidup siswa. Materi pembelajaran sering tidak sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Konsekwensinya, setelah lulus sekolah siswa tidak bisa langsung menerapkan teori yang didapatkan dari sekolah.

Diketahui bersama, pendidikan sangat erat kaitannya dengan transformasi sosial. Sebab pendidikan juga bagian dari sistem sosial. Relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia riil menjadi kebutuhan mendesak untuk direalisasikan.

Fenomena yang terjadi, antara dunia pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak match dan terjadi kesenjangan cukup signifikan. Kebutuhan masyarakat belum bisa diwujudkan sepenuhnya oleh lembaga pendidikan. Di antara indikator masalah ini adalah, lulusan lembaga pendidikan belum siap pakai karena hanya menguasai teori, miskin keterampilan. Dunia industri pun akhirnya meninggalkan sekolah karena tidak ada linkage.

Selain itu juga disebabkan materi pembelajaran tidak sesuai potensi daerah dimana siswa bertempat tinggal. Materi pelajaran dan konteks kehidupan siswa tidak padu. Sehingga tidak terjadi transfer belajar dalam kehidupan siswa tidak terjadi. Mengacu pada indikasi tersebut, maka peluang kerja bagi lulusan SMK pada dasarnya belum begitu menggembirakan.

Jumlah ini memang belum ideal, sehingga perlu diupayakan peningkatan daya serap lulusan untuk memasuki lapangan kerja maupun menciptakan peluang kerja. Secara nasional, idealnya 80%-85% lulusan SMK dapat memasuki lapangan kerja, sementara 15%-20% dimungkinkan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Jika melihat data ini, maka penambahan jumlah SMK, yang salah satu pertimbangannya karena  52% lulusan SMA yang tidak studi lanjut, apakah benar sebuah solusi? Bukankah yang lebih utama dan pertama adalah meningkatkan kualitas kinerja penyelenggaraan SMK sehingga kualitas lulusannya meningkat, baru kemudian meningkatkan jumlah sehingga mencapai proporsi tertentu sekitar 65 persen penganggur terdidik adalah lulusan pendidikan menengah (Sakernas, BPS 2004).

Gambaran tentang kualitas lulusan pendidikan kejuruan yang disarikan dari Finch dan Crunkilton (1984), bahwa : “Kualitas pendidikan kejuruan menerapkan ukuran ganda, yaitu kualitas menurut ukuran sekolah atau in-school success standards dan kualitas menurut ukuran masyarakat atau out-of school success standards”. Kriteria pertama meliputi aspek keberhasilan peserta didik dalam memenuhi tuntutan kurikulum yang telah diorientasikan pada tuntutan dunia kerja. Kriteria kedua, kemampuan lulusan untuk berhasil di luar sekolah berkaitan dengan pekerjaan atau kemampuan kerja yang biasanya dilakukan oleh dunia usaha atau dunia industri.

Tamatan dari SMK diharapkan mampu dan siap bekerja sebagi tenaga ahli dibidangnya, dan dapat membuka lapangan pekerjaan, namun pada kenyataanya angka keterserapan lulusan di dunia kerja dan industri masih jauh dari angka yang diharapkan, selain faktor ketersediaan lapangan pekerjaan yang masih belum sesuai dengan jumlah lulusan yang dihasilkan, faktor kualitas lulusan masih menjadi penyebab banyaknya lulusan yang belum bekerja.

Diharapkan melalui pengembangan SMK, tingkat pengangguran dapat ditekan. Karena berbeda dengan pendidikan SMA, pendidikan SMK didasarkan pada kurikulum yang membekali lulusannya dengan keterampilan tertentu untuk mengisi lapangan kerja atau membuka lapangan usaha. Selain itu, SMK juga dapat diarahkan untuk mengangkat keunggulan lokal sebagai modal daya saing bangsa. Kurikulum SMK sangat memungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan potensi wilayah dan lapangan pekerjaan/usaha yang timbul akibat aktivitas perekonomian wilayah.

Gambaran kelulusan yang besar dapat memberikan masukan, bahwa dalam setiap tahunnya dunia kerja perlunya melakukan penyerapan tenaga kerja yang besar, apabila ini belum mampu diatasi oleh pemerintah maka akan timbulnya pengangguran atau makin banyak orang yang mencari pekerjaan. Sebagai penyelenggara pendidikan pihak sekolah di tuntut untuk lebih aktif meningkatkan proses belajar mengajar (PBM) yang lebih mengarahkan peserta didik pada pendidikan yang berbasiskan kecakapan hidup (life skill). Melalui mata diklat yang diberikan mampu membentuk siswa mengembangkan potensi diri, sehingga berani menghadapi, mau mencari pemecahan, dan mampu mengatasi masalah hidup dan kehidupan.

IV. Upaya peningkatan lulusan SMK di bidang industry

Pendidikan SMA yang selama ini mendapat prioritas perhatian, tidak menerapkan kurikulum yang mengarahkan lulusannya untuk bekerja, tetapi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Padahal kenyataannya sebagian besar lulusan SMA tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, justru mencari pekerjaan. Akibatnya terjadi pertambahan angka pengangguran terdidik, karena lulusan SMA yang mencari pekerjaan tidak dibekali oleh keterampilan khusus yang diperlukan dunia kerja. Lulusan pendidikan yang seharusnya menjadi modal dan motor penggerak pembangunan, ternyata sebaliknya menjadi beban pembangunan.

Salah satu cara yang sering digunakan melihat potensi wilayah adalah melalui struktur PDRB dan lapangan kerja. Struktur PDRB menggambarkan kontribusi setiap sektor/lapangan usaha terhadap pembentukan PDRB keseluruhan. Perubahan struktur ekonomi mengakibatkan terjadinya perubahan struktur penyerapan tenaga kerja (elastisitas penyerapan tenaga kerja) (Sumarsono, 2006). Hal ini seharusnya menjadi dasar acuan pengembangan program keahlian di SMK. Sesuai dengan tujuan pendidikan SMK, yaitu membekali peserta didik dengan keterampilan tertentu untuk memasuki dunia kerja/dunia usaha, maka pengembangan SMK harus selalu mengacu pada kebutuhan pasar kerja. Namun pengembangan SMK bukan sekedar pada memperbesar jumlah unit SMK dan jumlah siswa, tetapi bagaimana keberadaan SMK jika dikaitkan dengan potensi wilayah daerah. Sudah menjadi masalah klasik bagi dunia pendidikan SMK di Indonesia pada umumnya, bahwa link and match antara output pendidikan SMK dengan dunia usaha/dunia industri (DU/DI) sebagai pengguna output pendidikan SMK belum tercapai. Diantara kebutuhan tersebut, kebutuhan atau tuntutan dunia kerja/usaha/industri, dirasakan amat mendesak, maka prioritas “link and match” diberikan pada pemenuhan kebutuhan dunia kerja (Wardiman J., 1994:15-16). Salah satu masalahnya terletak pada kualitas lulusan SMK yang belum sesuai dengan standar kompetensi yang dibutuhkan pasar tenaga kerja.

Penerapan PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di SMK sejak tahun ajaran 1993/1994 merupakan bagian dan implementasi konsep link and match. Dengan PSG yang perancangan kurikulum, proses pembelajaran, dan penyelenggaraan evaluasinya didesain dan dilaksanakan bersama-sama antara pihak sekolah dan industry, diharapkan dapat dihasilkan lulusan SMK yang mumpuni. Siswa-siswa tidak hanya dibekali pengetahuan-pengetahuan dasar tentang dunia industry, tetapi langsung bersentuhan dengan pengalaman kemampuan praktik di dunia kerja nyata.

PSG ini diilhami model 2 sistem yang diberlakukan di Jerman, yang merupakan bench dan mark bagi Negara yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan. System ini merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang menetukan secara sistematik dan sinkron antiprogram pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahliaan yang diperoleh melalui praktek langsung dan dunia kerja.

Melalui PSG, siswa belajar di 2 tempat, sekolah dan industry. Jadi, pemberlakuan PSG menuntut tanggung jawab bersama antara pihak sekolah dan industrinya.

Empat tujuan PSG, ialah :

1)      Mampu menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian professional

2)      Meningkatkan dan memperkukuh keterkaitan dan kesepadanan lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dengan dunia kerja

3)      Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja berkualitas professional

4)      Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan

Di bidang pendidikan kejuruan, untuk mengimplementasikan gagasan Dr. Wardiman Djojonegoro, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), pada awal tahun 1995 dibentuklah satuan Tugas Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan di Indonesia. Tim ini beranggotakan tokoh-tokoh penting dari kalangan pejabat di Depdiknas, akademisi, sejumlah pengusahan top, maupun pejabat dan lembaga pemerintah yang lain. Tim yang beranggotakan puluhan orang ini memang bersifat lintas sektoral dan multidisiplin.

Hasil kerja tim itu kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku berjudul Ketrampilan Menjelang 2020, yang diterbitkan tahun 1997. Buku ini berisi rekomendasi sekaligus menguraikan sejumlah konsep dasar dan strategis dalam rangka pembaruan pendidikan kejuruan di Indonesia untuk mengahadapi era perdagangan bebas APECpath tahun 2020. “Merupakan pemikiran besar untuk pembangunan pendidikan kejuruan,” kata Dr. Gatot Priowirjanto, Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Beberapa butir pikiran Ketrampilan Menjelang 2020, antara lain:

1.)    Industry akan berperan aktif dalam pengembangan standar keahlian sebagai dasar bahan belajar mengajar, pengujian, dan sertifikasi ketrampilan

2.)    Pendekatan baru tersebut, selain dilaksanakan di SMK, dapat juga digunakan oleh pusat-pusat pelatihan industry atu lrmbaga pendidikan dan pelatihan kejuruan yang berada di bawah departemen lain

3.)    Industry akan selalu dilibatkan dalam semua tingkatan dalam pengelolaan system baru pengembangan pendidikan dan pelatihan kejuruan

4.)    Penyelenggaran pendidikan system ganda

5.)    Dikembangkannya pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi

Namun, ada masalah lain yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan SMK agar lulusannya terserap lapangan usaha dan lapangan kerja, yaitu masalah kesesuaian jumlah (proporsi) lulusan setiap program keahlian dengan kebutuhan dunia kerja. Keberadaan SMK seharusnya didasarkan pada analisis kebutuhan tenaga kerja (demand and supply analisys). Fakta di lapangan, paling tidak pada masa sebelum tahun 2004 yang terjadi adalah supply driven. Hal paling nyata terlihat pada SMK Swasta, di mana proporsi peserta didik perprogram keahlian sangat timpang. Kalau di SMK Negeri keadaannya tidak demikian, karena ada ketentuan alokasi peserta didik setiap program keahlian.

Upaya peningkatan yang seharusnya dilakukan agar lulusan SMK terserap di bidang industry ialah :

1.)                Perluasan akses SMK

Pembangunan Sekolah baru dengan jurusan yang baru atau menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Pembangunan unit gedung yang baru pula. Sehingga SMK menjadi besar dan berkembang

2.)                Pemerataan akses SMK

Pembangunan SMK di daerah tertinggal dan terpencil serta adanya asrama di SMK tersebut. Sehingga anak-anak di daerah terpencil bisa merasakan sekolah. Adanya asrama diperuntukkan bagi siswa yang rumahnya jauh.

3.)                Peningkatan mutu SMK

Pengadaan sarana dan prasana,serta buku pelajaran, rehabilitasi gedung SMK. Agar siswa bisa lebih nyaman dalam belajar. Adanya kompetisi-kompetisi yang bisa membuat siswa lebih menonjol dalam kemampuannya. Sertifikasi bahasa Inggris TOEFL dan TOEIC, agar siswa lebih bisa dalam menguasai bahasa Inggris. Pengembangan SMK bertaraf internasional sehingga mutu nya bisa lebih meningkat. Adanya besiswa prestasi bagi siswa siswa berprestasi yang kurang mampu.

4.)                Peningkatan Relevansi SMK

Pengembangan unit usaha yang ada di SMK tersebut, bakat dan minat siswa berkembang. Bantuan modal kerja terhadap SMK, serta perlunya kerjasama dengan industry agar lulusan SMK tersebut tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan.

5.)                Pencitraan SMK

Pencitraan SMK bisa melalui media-media yang elektronik maupun cetak. SMK mempunyai website berisi informasi tentang SMK tersebut, dan iformasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Adanya pencitraan di media masa, suatu SMK bisa dikenal di masyarakat.

6.)                Pengembangan kualitas layanan SMK

7.)                Inovasi pendidikan

8.)                Pengembangan kurikulum

Penyiapan bahan kurikulum program keahlian baru serta pemenuhan modul agar saat KBM materi yang disampaikan bisa dipahami oleh murid. Dan agar murid dituntut aktif dalam pembelajaran, dalam prakteknya bisa lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN

Wiryanto, Bernard T. Wahyu. 2010. Sukses Kerja dengan Ijazah SMA/SMK. Jakarta: Transmedia Pustaka.

Sidi, Indra Djati. 2009. Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profeesional. Jakarta: Grasindo.

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

4 thoughts on “TINGKAT KETERSERAPAN LULUSAN SMK di BIDANG INDUSTRI

  1. Mba, sumber yg menyatakan SMK keterserapannya minimal dalam 2 th 70-75% itu darimana ya? Depdiknas ( 2003:3) itu nyarinya dimana? mohon bantuannya mba, saya butuh sumber yg depdiknas itu. Terima kasih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s