PSG dan Prakerin

PSG dan Prakerin

Menurut Depdikbud (1996), Pendidikan Sistem Ganda (PSG) adalah bentuk penyelenggaraan pendidikan dan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja secara langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Jadi dua pihak, yaitu lembaga pendidikan dan dunia industri secara besama-sama menyelenggarakan suatu program pendidikan dan pelatihan kejuruan. Sedangkan prakerin merupakan bagian dari PSG.

PSG dan prakerin pada umumnya dianggap sama. Padahal kedua hal tersebut berbeda.

PSG Prakerin
  • Kedua belah pihak (SMK dan industri) bersama untuk menyusuk kompetensi yang akan dicapai.
  • SMK menyerahkan sepenuhnya kepada industri tentang kompetensi yang akan dicapai siswa selama prakerin.
  • Lama waktu PSG sekitar 3 – 4 bulan.
  • Lama waktu prakerin 1 tahun.
  • Tempat PSG biasanya tidak jauh, maksudnya masih se-provinsi.
  • Tempat prakerin biasanya jauh, sampai ada yang di luar pulau.

Semua SMK, kita ambil contoh di Jawa Timur, sebagian menerapkan PSG dan sebagian menerapkan prakerin. Ini karena tergantung kebutuhan SMK, lebih condong meluluskan untuk kerja atau lebih condong meluluskan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Dan ini juga bergantung pada sejauh mana SMK tersebut memiliki hubungan dengan industri. Tugas SMK dalam memilih tempat PSG/prakerin harus sesuai dengan bidangnya. Meski siswa dilepas, SMK harus tetap memantau. Karena terkadang siswa melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan bidangnya.

PSG atau prakerin yang lebih efektif untuk siswa SMK? menurut pandangan saya, yaitu PSG. Karena PSG merupakan kombinasi antara SMK dan industri untuk menyusun suatu kompetensi siswa dalam menguasai bidangnya. Sedangkan prakerin, siswa dilepas oleh SMK, dan diserahkan industri. Industri akan memberikan kompetensi sendiri, entah sesuai atau tidak dengan SMK. Karena dengan adanya PSG juga lulusan SMK tidak dicetak untuk bekerja, tetapi juga bisa melanjutkan. Disamping itu, PSG juga dapat mengatasi masalah ketidaksesuaian tempat PSG dengan jurusan peserta didik, misal jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) mendapatkan tempat PSG di warnet. Dengan kata lain, ketidaksesuain ini dapat teratasi dengan adanya PSG bukan prakerin, alasannya karena di sekolah peserta didik masih mendapat materi, walaupun dari tempat PSG sama sekali tidak mendapatkan materi yang sesuai dengan jurusannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s